Pengalaman Belajar & Bekerja Dengan Huawei Matepad 11

Beberapa waktu lalu saya beli Matepad 11 sebuat tablet Android buatan Huawei yang “cukup” terjangkau dibanding spesifikasi yang ditawarkan.

Spesifikasi Matepad 11 paling menonjol terletak pada prosesornya yaitu Snapdragon 865 serta RAM sebesar 6 GB, simpelnya Tablet ini gaharrrr!

Saya bukan tipe pembeli gadget baru, hampir semua gadget yang saya beli barang second rasa baru. Tujuannya membeli harga smartphone/ tablet berharga miring tetapi tampilannya masih seperti baru.

Dalam beberapa hari saya reset harga di OLX untuk mendapatkan harga beli yang paling terjangkau. Umumnya Harga bekas dari Matepad 11 dalam kondisi masih masa garansi kisaran 6 – 7 juta bila disertakan bonus keyboard fisiknya.

Saya sempat berhasil deal Matepad 11 plus Keyboard, Case dan Stylus berharga Rp 5.700.000 setelah negoisasi alot, sayangnya ketika akan membelinya melalui Tokopedia saya ditikung orang lain, so sad. Kan saya yang negoisasi bambang, kenapa anda yang hoki!

Pada kesempatan lain saya dapat juga harga yang lumayan murah, Rp 6.000.000 paket lengkap (Unit tablet, Keyboard fisik, M Pen) yeyey….

Di mulailah uji coba dan adaptasi setelah sekian tahun nyaman dengan Iphone & IOS. Huawei Matepad 11 ini menggunakan Harmoni Os, namun intinya masih berdasarkan Android, jadi jujur saya agak skeptis terhadap kenyamanan sistem operasi Android, sekalipun prosesornya kata orang cukup gahar, ke smooth-an Android tak pernah memenuhi ekspektasi saya bila disandingkan IOS, setidaknya itu dulu.

Setelah beberapa waktu eksplorasi, bagaimana performa Tablet Harmoni OS ini? Lumayan mantap sih, al hamdulillah buruknya ekspektasi saya tidak terjadi. Responsifitas yang diberikan bagus sekali, kinerja Snapdragon 865 ini tidak buruk, sesekali masih saya dapatkan lag, masih wajar bila menilik harganya.

Pernah saya pakai chrome sebagai browser harian, namun ada eksperien yang aneh, browser buatan google ini terasa begitu berat, menyababkan performa tablet jadi lelet parah, responsifitas layar jadi slow motion seolah habis kena ninjitsu (jurus anime naruto). Terus terang saya kecewa atas kejadian dan bikin keputusan untuk jual tablet Huawei ganti dengan ipad air 4, pada akhirnya tidak jadi karena masih ada pertimbangan lain. Saya anggap yang masalah bukan Matepadnya, tetapi Chrome yang tak stablil.

Menggunakan perangkat yang diblacklist oleh google cukup berat, tidak bisa menggunakan GMS (Google Mobile Service ) berarti juga tidak bisa menggunakan semua aplikasi yang harus terhubung dengan GMS.

Meski Huawei dengan cerdik sudah menyertakan beberapa aplikasi primer seperti Petal Map, Petal Search, dll kegunaannya masih kurang memuaskan. Ada lagi minus yang menurut saya parah, GPS yang rusak, entah rusak hanya di unit saya saja tau semua tablet versi 11 Huawei.

Saat saya aktifkan Petal Map, Map Here, Google Map (web browser) atau aplikasi peta lain, titik lokasi saya berada di Tangerang, padahal realnya saya di Riau. GPS gagal identifikasi lokasi saya.

Kekurangan itu tidak soal, karena saya membeli tablet ini hanya untuk kuliah online dan menuliskan berbagai tugas mengajar di pesentren. Saya bukan gamer yang mayoritas game-game terbaik terkoneksi pada GMS. Aplikasi yang sering saya gunakan palingan cuma browser dan MS Office 365

Oh ya, adanya keyboard yang emang Huawei desain untuk Matepad ini ternyata sangat efektif untuk produktifitas, keyboard inilah yang jadi alasan saya tidak jadi jual nantinya akan diganti dengan Ipad Air 4/ 5. Sebab Ipad Air 8 juta belum termasuk Magic Keyboardnya, beli magic keyboard bekasnya saja seharga 4 juta, kalaupun merek non apple harganya juga kisaran 2-3 juta. Subhanallah alokasikan uang 10 juta untuk tablet it’s not worth for me.

Pengalaman Belajar & Bekerja Dengan Huawei Matepad 11

Demikian Pengalaman Belajar & Bekerja Dengan Huawei Matepad 11 semoga bermanfaat bagi yang membutuhkan.

Leave a Comment

Your email address will not be published.