Sebuah Babak Baru Dalam Kehidupan Menikah

Sebuah Babak Baru Dalam Kehidupan: Menikah

Al hamdulillah, ini adalah babak baru dalam hidup saya yang sudah 26 tahun hidup “sendiri”. Sejak ini kata saya sudah menjadi kata “kami/ kita” tersatukan dalam sebuah bahtera rumah tangga,

Well saya nggak mau serius-serius amat ya… tapi saya akan menceritakan kisah panjang yang pendek ini.

Kekasih saya saat ini adalah cinta pandangan pertama, dulu sekali rasa suka sudah hadir, tepatnya kagum! Anggunnya dia sudah terlihat sejak kecil, anak cerdas pastinya. Hidup ditengah keluarga yang diluaskan Allah rizkinya, tapi tetap sederhana karena memiliki kedua orang tua yang shalih (al hamdulillah). Baik beliau maupun saya sejak lulus SD sudah di pondokkan di pesantren (berbeda tempat) beberapa kali saya bersua dengannya di kejauhan makin terlihat anggun.

Dan demi Allah, dalam sekilas melihat sosoknya tidak melahirkan nafsu dosa, melainkan ketenangan dan rasa hormat. Masyaallah, tabarakallah…

Ketika makin dewasa seiring waktu, saya mengenal beberapa wanita (bukan pacaran) namun tak ada yang cocok untuk menjadi pendamping, terutama disebabkan tak ada yang bisa membuat hati ini tenang seperti rasa ini terhadap kekasih (istri) saya.

Alasan saya tidak maju meminang beliau, karena takut patah hati alias cinta sepihak. Kemudian saya juga perlu mengaca diri, melihat diri ini belum pantas mendapat cinta seorang shalihat sebaik dia.

Pada akhirnya, saya hanya berdoa. Yup, ikhtiar saya hanya doa:

“Ya Allah, jadikan fulanah istriku, tapi jika dia bukan takdirku, segerakanlah dia menikah dan bahagiakan dia bersama yang lain di tempat yang terpisah jauh dariku”

Beberapa lama kemudian, orang tuanya datang melalui orang lain menyampaikan keinginan untuk menjodohkan dengan abang saya. Ya Allah saat itu saya sudah pasrah, siap patah hati melihatnya mejadi kakak ipar.

Tapi qodarullah abang saya sudah punya pilihan lain dan entah alasan lainnya tak bersedia dengan perjodohan ini.

Oh iya just FYI, kami tinggal 1 desa, dan rumah kami cuma beberapa ratus meter. Hubungan orang tua kami (saya dan kekasih) sangat dekat, dan memiliki pandangan hidup yang sama (mengutamakan agama) itulah mengapa terjadi perjodohan.

Kehidupan pun berlanjut… sampai saya bermimpi kekasih saya ini pada akhirnya menikah dengan adik saya, ya Allah demi Allah saya benar-benar patah hati. Saat itu saya tengah mengikuti event daurah quran selama 2 bulan, di suatu malam hari mimpi itu saya terbangun sekitar pukul 2 dini hari. Qiyamul lail dalam deraian air mata terlantun lafadz-lafadz doa di waktu yang mustajab, lafadznya masih sama:

“Ya Allah, jadikan si dia istriku, tapi jika dia bukan takdirku, segerakanlah dia menikah dan bahagiakan dia bersama yang lain di tempat yang terpisah jauh dariku”

Dan subhanallah, sampai saya menginjak umur 26 dia belum juga menikah (beda 1 tahun, umur 25 thn), saat itu saya mulai ikhtiar menjadi pendamping, mengenalkan pada ummi beberapa biodata calon istri, qodarullah ummi tidak cocok.

Prinsip saya, syarat yang paling mutlak dari calon istri adalah selain shalihah, dia mendapatkan ridho dari ummi. Karena saya tidak sekedar mencari patner hidup, tapi juga patner bagi ummi, memberi kenyamanan pada beliau yang telah melahirkan dan mendidik saya selama ini.

Hingga datanglah suatu sore, saat ini bapak mertua saya mengajak untuk ngobrol bertiga bersama abang. Dengan sedikit kata imbuhan, langsung pada inti obrolan beliau menawarkan putrinya si anggun shalihah ini untuk menjadi pendamping hidup.

Masyaallah, saat itu saya tak dapat konsentrasi atau saya belum bisa mencerna, apakah beliau menawarkan secara serius atau sekedar tawaran lewat. Hati ini berdebar terlalu kencang, sampai saya merasa langit mau ambruk saking bingungnya, speachless!

Ya Allah engkau maha dekat… Bahkan bisikan hambaMu yang bergelimang dosa ini Engkaupun mengabulkan.

Akhirnya begitu ummi memutuskan “Ya” (Dan tentu saja pasti iya) berlanjut proses khitbah pada 8 Juli 2019, lalu ijab qobul pada 14 agustus 2019.

Sebuah Babak Baru Dalam Kehidupan Menikah

Dan masyaallah, semua proses dimudahkan Allah tanpa adanya kendala apapun, mahar pun saya tidak menanyakan pada si kekasih shalihat ini. Bahkan saya belum berjumpa sejak hampir 1 tahun, saat khitbah saya tidak melihat sosoknya yang tengah berkumpul bersama para ummahat. Saya tidak tahu nomer telfonnya sampai selesainya ijab qobul.

Semoga Allah memberkahi kami, memperbaiki diri saya menjadi seorang hamba yang shalih disisi rabbnya, seorang anak yang berbakti kepada orang tua, seorang suami yang sebenar-benarnya qowwam terhadap istrinya, dan ayah yang teladan bagi anak anak kami kelak.

Inilah Sebuah Babak Baru Dalam Kehidupan: Menikah semoga menjadi cerita di masa depan.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *